Welcome to our website

The company was founded in February 2014 by Kristi Winarno Priyan. The company has several members who became CEO, namely: Priyan Kristi Winarno, Seta Brakumara, Kartiko Puji Utomo, Rev. Kusdarto Prabowo, and Legian. The company is led by Kristi Winarno Priyan. The company is engaged in providing market research information for companies about the business opportunities that have not been ogled and has a great advantage. In addition to providing information on the business opportunities for the company, we also provide information on employment is very useful for the company.

Wednesday, March 26, 2014

Plasma TV Vs LCD TV Vs LED TV, Mana Yang Pantas Dibeli?


Era TV Tabung yang sudah berpuluh tahun menjadi perangkat elektronik keluarga favorit untuk menghadirkan tayangan hiburan segera berakhir dalam beberapa waktu ke depan. Standar baru siaran digital yang saat ini sudah memasuki tahapan uji-coba di ibukota dan akan menyusul kota-kota lain dalam waktu dekat nampaknya memicu percepatan pergeseran untuk menggunakan perangkat TV Digital seperti Plasma TV, LCD TV, dan teknologi terbaru LED TV.
Selain itu, berbagai keunggulan yang ditawarkan juga melambungkan popularitas TV layar datar dari ketiga jenis teknologi tersebut, antara lain: ukuran yang tipis, ringan, dan dapat digantungkan di tembok. Ukuran layar yang besar juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemar tayangan televisi.Tidak ketinggalan pula fitur hemat energi yang ditawarkan, yang memungkinkan penghematan konsumsi listrik.
Membeli TelevisiDigital, nampaknya bagi sebagian orang cukup menyulitkan, karena munculnya berbagai terminologi baru yang membingungkan, dimana seringkali teknologi yang sama mendapat label yang berbeda di antara produsen yang berbeda. Salah satu yang paling membingungkan adalah perbedaan antara Plasma TV,LCD TV, dan LED TV.Tidak terhitung kali penggunaan sebutan “Plasma TV” diarahkan untuk sebuah LCD TV, mengingat Plasma merupakan salah satu teknologi pertama untuk layar datar dengan ukuran yang besar (>42”). 
Apa sebenarnya perbedaan antara ketiga jenis TV layar datar tersebut? Manakah diantara ketiga jenis TV tersebut yang layak untuk dibeli?Berikut adalah deskripsi dan perbedaan Plasma, LCD TV, dan LED TV.
Plasma TV
Plasma Display Panel (PDP) atau di Indonesia banyak dikenal sebagai Plasma TV merupakan salah satu jenis teknologi TV layar datar yang memungkinkan produsen untuk memproduksi TV Layar Datar ukuran besar secara massal dengan harga yang ekonomis. 
Istilah dan konsep teknologi Plasma TV sendiri diperkenalkan pada tahun 1936 oleh seorang ahli Fisika, Elektronika, dan penemu dari Hungaria.Pada perkembangannya IBM, Fujitsu, dan Panasonic memperkenalkan beberapa jenis televisi yang memanfaatkan teknologi Plasma pada hasil riset mereka.Baru pada tahun 1997, Fujitsu diikuti Philips dan Pioneer, merilis TV layar datar ukuran 42 inci dengan teknologi Plasma secara komersial.
Istilah PDP sendiri berasal dari penggunaan sel Plasma, yang merupakan lampu Fluorescent, sebagai dasar pencahayaan layar televisi tersebut.Sebuah Plasma TV memanfaatkan jutaan sel Plasma yang diletakkan diantara dua panel layar kaca. Setiap sel yang berisi kombinasi antara gas noble dan sejumlah kecil mercury yang akan diuapkan dan diberi aliran listrik sehingga berpendar dan membentuk plasma. Warna dihasilkan dari fosfor yang terdapat di dalam sel tersebut, di mana di dalam setiap sel akan berisi fosfor 3 jenis warna utama, yaitu: Red, Green, dan Blue, atau biasa dikenal dengan RGB. Perbedaan voltage yang diberikan pada tiap sel juga menghasilkan kombinasi warna yang ada.
Keunggulan Plasma TV
  • Menghasilkan warna hitam yang lebih baik dari LCD TV
  • Contrast rasio yang tinggi (1:2.000.000)
  • Sudut pandang lebih lebih lebar
  • Refresh Rate dan Response Time yang cepat, meminimalisir tampilan gambar kabur
Kelemahan Plasma TV
  • Gambar diam yang ditampilkan dalam waktu yang lama akan menimbulkan burn-in dan gambar berbayang
  • Kualitas gambar akan terus menurun seiring dengan lamanya penggunaan, meskipun dalam jangka waktu yang relatif lama
  • Lebih berat dari LCD
  • Menggunakan daya listrik yang lebih besar dibandingkan dengan LCD TV
  • Ukuran umumnya tidak tersedia di bawah 42 inci.

LCD TV
LCD TV yang di pasaran tampil lebih dulu dari Plasma mengalami penurunan popularitas sejak kemunculan Plasma TV mengingat berbagai kelebihan yang ditawarkan dibandingkan LCD generasi awal.Dengan harga yang jauh lebih mahal untuk ukuran yang lebih kecil, membuat penjualan Plasma meningkat.
Namun demikian, pada perkembangan selanjutnya, LCD TV dengan harga ekonomis dengan berbagai kemajuan teknis, membuat konsumen kembali beralih ke LCD TV.Seiring dengan kemunculan HDTV dan Full HD TV di jajaran produk LCD TV, diikuti dengan ukuran yang besar, harga LCD TV pun juga semakin masuk akal di kantong konsumennya.
Pada dasarnya LCD TV bekerja dengan memproduksi gambar hitam dan berwarna dengan melakukan seleksi cahaya yang dipancarkan oleh serangkaian lampu teknologi CCFLs (Cold Cathode Fluorescent Lamps) di belakang layar. Jutaan lampu tersebut akan dinyalakan dan dimatikan melalui LCD shutter dengan melewatkan cahaya putih dengan  intensitas tertentu. Setiap shutter akan digabungkan dengan filter warna yang akan melewatkan warna Red, Green, dan Blue (RGB). Shutter dan Filter yang masing-masing merupakan sub-pixel ini berukuran sangat kecil, dan secara kasat mata membentuk gabungan yang disebut dengan pixel.


Keunggulan LCD TV
  • Menghasilkan warna yang lebih realistis
  • Teknologi anti glare (tanpa bayangan)
  • Tersedia mulai ukuran kecil hingga besar
  • Tidak ada radiasi yang dipancarkan
  • Dapat digunakan sebagai monitor komputer
  • Kebutuhan sumber daya listrik yang lebih rendah dibanding Plasma

Kelemahan LCD TV
  • Kualitas gambar akan menurun apabila dilihat pada sudut pandang yang lebar
  • Untuk ukuran yang besar, harganya lebih mahal apabila dibandingkan dengan Plasma TV
  • Refresh Rate dan Response Time yang jauh lebih rendah dibandingkan Plasma, sehingga kadang menghasilkan gambar yang kabur

LED TV
Beberapa tahun terakhir, pasar televisi digital diramaikan dengan hadirnya sebuah teknologi televisi layar datar yang oleh beberapa vendor elekronik terkemuka disebut dengan LED TV. Vendor yang paling agresif dalam menggelontorkan TV dengan teknologi baru ini antara lain: Samsung Electronics, LG Electronics, Toshiba, dan berbagai vendor terkemuka lainnya.
Pada dasarnya sebenarnya LED TV merupakan pengembangan dari  LCD TV dimana jenis ini menggunakan LED Backlight sebagai pengganti cahaya fluorescent yang digunakan pada jenis LCD TV sebelumnya. Ada dua macam bentuk LED TV yang beredar di pasaran: RGB LED dengan LED yang diletakkan di belakang panel layar, atau EDGE-LED dimana LED diletakkan di sekeliling layar [5].
Kelebihan LED TV
  1. Tingkat contrast yang jauh lebih tinggi dibandingkan LCD TV, setara atau bahkan lebih tinggi daripada Plasma TV
  2. Memungkinkan produsen untuk memproduksi televisi layar datar dengan ukuran super tipis, dengan ketebalan sekitar 2.5 cm
  3. Lebih ramah lingkungan
  4. Konsumsi listrik yang lebih rendah sekitar 20-30% dibandingkan LCD TV konvensional
  5. Berbagai produk LED TV dari vendor terkenal menawarkan fitur pemrosesan gambar digital, fitur Digital TV Tuner, dan berbagai fitur terbaru lainnya.


Kelemahan LED TV
  • Harga yang lebih mahal, pada saat ini untuk ukuran yang sama, harga LED TV yang termurah sekitar 1,5 kali lipat LCD TV konvensional
  • [UPDATED Oct 17, 2011]: Harga yang sedikit lebih mahal, untuk ukuran dan fitur yang sama, harga LED TV yang termurah sekitar 20% lebih mahal dibanding LCD TV konvensional
Kesimpulan
Secara umum LED TV menawarkan kualitas gambar yang lebih baik apabila dibandingkan dengan LCD TV, khususnya untuk contrast gambar serta kesempurnaan warna hitam, , meskipun bagi sebagian besar orang perbedaan itu tidak terlalu nampak. Hal ini disebabkan karena kualitas LCD TV yang sudah cukup memadai.Apabila dibandingkan dengan plasma, kualitas yang ditawarkan juga setingkat atau bahkan lebih, mengingat LED TV terbaru menawarkan berbagai fitur tambahan untuk mengolah gambar.
Perbedaan harga yang cukup mencolok dengan LCD TV, tidak menyurutkan sebagian orang untuk membeli LED TV, mengingat penampilan LED TV yang lebih tipis dan dengan desain terbaru. Bagi sebagian orang lain yang menempatkan harga di atas berbagai kriteria pembelian TV, nampaknya LCD TV masih menjadi pilihan utama. Plasma sendiri, nampaknya sudah tidak terlalu menarik minat, dan mulai ditinggalkan sejak tahun 2007, mengingat perbedaan harga yg sudah semakin tipis antara LCD TV dan Plasma TV. Desain yang juga terlihat usang juga semakin menyurutkan minat orang yang akan membeli Plasma TV. Panasonic sebagai salah satu produsen yang selama bertahun-tahun kukuh dengan memproduksi Plasma TV untuk ukuran 42 inci ke atas, akhir-akhir ini sudah mulai mengalihkan jajaran TV terbarunya dengan teknologi LCD TV dan LED TV.
Akhirnya, semuanya terpulang kembali kepada calon pembeli. Apabila anggaran yang tersedia mencukupi, pemilihan LED TV nampaknya cukup tepat, mengingat LED TV sudah dipersiapkan untuk teknologi TV digital yang benar-benar akan menggantikan TV analog pada tahun 2018. Namun apabila anggaran terbatas, LCD TV merupakan pilihan yang paling pas, mengingat fitur yang disediakan sudah cukup memadai, lebih ringan, serta lebih hemat energi apabila dibandingkan dengan Plasma TV.






Kuisioner
Lingkarilah pertanyaan-pertanyaan (O) berikut dengan sebenar-benarnya.
1.      Tahukah Anda perbedaan Plasma TV, LCD TV, dan LED TV
a.    Ya
b.    Tidak
2.      Darimana Anda tahu perbedaan tersebut
a.    Media Cetak
ð       Koran
ð       Majalah
ð       Buku
b.    Media Elektronik
c.    Keduanya
3.      Jenis televisi mana yang Anda miliki saat ini
a.    Plasma TV
b.    LCD TV
c.    LED TV
d.   Lainnya ...sebutkan!
(Jawaban boleh dari satu)
4.      Alasan yang membuat Anda membeli televisi tersebut
a.    Harga
b.    Model (bentuk,warna,merk)
c.    Kualitas
d.   Lainnya ... sebutkan!
5.      Jumlah televisi yang Anda miliki
a.    1
b.    2-4
c.    >4

KESIMPULAN

Dari data yang dikumpulkan dari Mahasiswa FISIP UAJY jurusan Sosiologi angkatan 2011, 2012, dan 2013 menunjukkan sebagian besar mengonsumsi televisi dengan jenis LCD TV dan LED TV. Mahasiswa yang membeli LCD TV memperhitungkan dari segi harga, sedangkan LED TV dilihat dari segi kualitas, dan PLASMA TV kurang diminati Mahasiswa FISIP UAJY jurusan Sosiologi angkatan 2011, 2012, dan 2013

Kusdarto Wahyu Prabowo 

Minat Konsumsi Mahasiswa Sosiologi Universitas Atma JayaYogyakarta terhadap Perkembangan Makanan Lokal di Yogyakarta

oleh : Seta Brakumara

Pendahuluan
         Konsumsi makanan menjadi kebutuhan utama dalam memenuhi kebutuhan primer. Saat ini makanan
ada berbagai variasi seiring modernnya zaman. Meskipun semakin modern makanan lokal di Yogyakarta masih diminati oleh beberapa kalangan masyarakat di Yogyakarta. Perkembangan makanan lokal seperti gudeg masih dapat kita lihat di pinggir jalanan Yogyakarta, salah satunya di jalan Wijilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat konsumsi mahasiswa sosiologi UAJY terhadap makanan lokal yang dijual di Yogyakarta.

Rumusan Masalah
      Apakah ada minat konsumsi mahasiswa sosiologi UAJY terhadap perkembangan makanan lokal di Yogyakarta?

Tujuan Penelitian
       Untuk mengetahui minat konsumsi mahasiswa sosiologi UAJY terhadap perkembangan makanan lokal di Yogyakarta.

Metodologi
Metode penelitian yang digunakan adalah :
  •  Metode Kuantitatif
          Memilih menggunakan metode kuantitatif  untuk mendapatkan data yang luas dan akurat dari suatu                populasi berdasarkan fenomena yang empiris dan dapat diukur.
  • Data yang akan dikumpul
          Data primer
  • Teknik pengumpulan data
         Teknik yang dipakai untuk pengumpulan data yaitu dengan menyebar kuisioner ke Mahasiswa                       Sosiologi UAJY
·         Teknik pengolahan data
Teknik pengolahan data yang dipakai yaitu dengan menggunakan sistem SPSS
·         Sampel
Teknik sampling yang digunakan adalah teknik random sampling
·         Populasi
Dalam penelitian ini populasi penelitian adalah mahasiswa Sosiologi UAJY. Dengan mengambil sampel 10 responden.
Hasil

APA ANDA MENYUKAI MAKANAN LOKAL DI YOGYAKARTA

Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
YA
8
80,0
80,0
80,0
TIDAK
2
20,0
20,0
100,0
Total
10
100,0
100,0

Pada tabel diatas terlihat responden yang menjawab “YA” ada 80% dan yang menjawab “TIDAK” ada 20%. Ini menunjukkan responden mayoritas menyukai makanan lokal yang terdapat di Yogyakarta.
APA YA MEMBUAT ANDA MENYUKAI MAKANAN LOKAL D YOGYAKARTA

Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
0
2
20,0
20,0
20,0
RASA
7
70,0
70,0
90,0
HARGA YANG TERJANGKAU
1
10,0
10,0
100,0
Total
10
100,0
100,0

Tabel diatas terlihat responden menyukai faktor “rasa” dalam hal menyukai makanan lokal di Yogyakarta. Sementara jawaban nilai 0 merupakan hasil pertanyaan bersambung dari jawaban responden yang menjawab “TIDAK” pada pertanyaan sebelumnya.

BERAPA KALI ANDA MEMAKAN MAKANAN LOKAL DI YOGYAKARTA DALAM 1 BULAN

Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
0
2
20,0
20,0
20,0
1-3 KALI
4
40,0
40,0
60,0
4-6 KALI
2
20,0
20,0
80,0
> 7 KALI
2
20,0
20,0
100,0
Total
10
100,0
100,0

Tabel diatas mayoritas responden memakan makanan lokal di Yogyakarta sebanyak 1-3 kali dalam sebulan dengan responden yang menjawab 4 orang.

BERAPA MACAM MAKANAN LOKAL DI YOGYAKARTA YANG ANDA KETAHUI

Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
1-2 MACAM
3
30,0
30,0
30,0
3-4 MACAM
4
40,0
40,0
70,0
> 5 MACAM
3
30,0
30,0
100,0
Total
10
100,0
100,0

Tabel diatas menunjukkan jawaban responden telah mengetahui beberapa macam makanan lokal yang ada di Yogyakarta.

DARI MANA ANDA MENGETAHUI MACAM-MACAM MAKANAN LOKAL DI YOGYAKARTA

Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
KELUARGA
4
40,0
40,0
40,0
TEMAN
6
60,0
60,0
100,0
Total
10
100,0
100,0


Pada tabel diatas menunjukkan responden mengenal macam-macam makanan lokal di Yogyakarta dari lingkungan responden selama ini tinggal dengan nilai terbanyak dari jawaban “TEMAN”

Kesimpulan :

Mayoritas mahasiswa sosiologi UAJY mengetahui dan menyukai makanan lokal di Yogyakarta dan para responden memprioritaskan rasa untuk menggemari makanan lokal tersebut. Minat konsumsi mahasiswa sosiologi UAJY terhadap makanan lokal di Yogyakarta masih tergolong rendah karena frekuensi responden memakan makanan lokal mayoritas hanya 1-3 kali dalam 1 bulan. 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms